VOC
Dalam catatan sejarah, bangsa Belanda masuk ke Nusantara melalui kongsi dagang mereka yang bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). VOC mendarat pertama kali pada tahun 1602 di Ambon, namun VOC mencapai Surabaya pada tahun 1617. VOC memiliki hak istimewa yaitu hak Oktroi. Melalui hak inilah VOC mampu memonopoli perdagangan rempah, membentuk angkatan perang sendiri, mendeklarasikan perang dan mengadakan perjanjian dengan raja atau pemimpin local.
Cornelius Speelman melihat Surabaya sebagai kota strategis dengan potensi besar sebagai pelabuhan, sehingga pemerintah pusat menjadikannya sebagai pusat kekuasaan Jawa bagian Timur atau Gezaghebber in den Oosthoek. Pembangunan untuk mendukung keperluan VOC dimulai dengan benteng pertahanan Belvedere (sekarang Jembatan Merah Plaza I), yang terletak di sebelah barat sungai Kali Mas untuk mengantisipasi ancaman di masa depan. Benteng ini dilengkapi dengan perangkat pertahanan, kantor bea cukai, dan galangan kapal untuk aktivitas perniagaan. Selain itu, Surabaya juga memiliki loji sebagai pusat aktivitas niaga VOC, yang menjadi orientasi utama pemukiman Eropa di sekitar loji tersebut. Pada akhir abad ke-18, pemukiman Eropa di sisi timur muara Sungai Kali Mas tidak memadai, sehingga dibangun pemukiman baru di tepi barat sungai, yang dikenal sebagai kawasan Jembatan Merah (Roode Brug) karena adanya jembatan merah yang menghubungkan kedua sisi sungai. Pada tahun 1799, kejayaan VOC berakhir akibat korupsi, pengeluaran perang yang membengkak, dan persaingan dengan kongsi dagang lain. Setelah VOC dibubarkan pada 1 Januari 1800, tanah jajahan yang dikuasai VOC ditangani oleh "Aziatische Raad," dengan Gubernur Jendral Johannes Siberg (1801-1804) menggantikan Gubernur Jendral Overstraaten sebagai Gubernur Jendral VOC terakhir.

BELANDA
HINDIA
Pemerintahan
Pemerintahan Hindia Belanda
Pada tahun 1800, pemerintahan baru di Hindia Belanda dimulai di bawah pengaruh Perancis, dengan Louis Napoleon diangkat sebagai penguasa Belanda dan Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jendral. Daendels membawa perubahan signifikan di Surabaya, menjadikannya sebagai basis pertahanan penting di Jawa dan memproyeksikannya sebagai ibukota kedua Hindia Belanda. Ia membangun De Grote Postweg, jalan sepanjang 1000 km yang menghubungkan Anyer-Panarukan serta memugar benteng Belvedere dan membangun benteng Lodewijk dan Kali Mas. Daendels juga mendirikan Artilleri Constructie Winkel di Surabaya, yang berkembang menjadi pabrik senjata terkemuka di Hindia Belanda, menyerap tenaga kerja dari orang Jawa dan Madura. Selain itu, ia melengkapi Surabaya dengan fasilitas militer, termasuk kantor administratur militer, rumah sakit militer, dan merenovasi rumah loji Grahadi untuk menjamu tamu penting. Rumah sakit militer yang dibangun Daendels kini menjadi Plaza Surabaya.
