
Boven Stad
Kota atas atau boven stad di Surabaya, terutama wilayah Darmo, dikenal sebagai hunian elit orang Eropa, bersama kawasan Sawahan, Gubeng, dan Ketabang. Pada era kolonial Hindia Belanda, Darmo disebut Darmo Boulevard, terinspirasi dari bahasa Perancis untuk jalan besar dengan tanaman peneduh. Nama Darmo diyakini berasal dari seorang pesuruh Belanda atau dari kata Dherma/Dharma dalam Jawa Kuna, dan mulai digunakan pada tahun 1916. Penyebaran pemukiman Eropa ke selatan Surabaya dipercepat oleh biro-biro pembangunan yang membangun real estate.

Beneden Stad
Kota Surabaya memiliki gedung-gedung yang mendukung perekonomian, terutama di Heerenstraat (jalan Rajawali), yang merupakan pusat perusahaan perkebunan Belanda. Gedung paling terkenal di sana adalah Internationale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam, dibangun antara 1927 dan 1931, yang berfungsi sebagai kantor perdagangan. Dekatnya terdapat De Javasche Bank, kini menjadi Museum Bank Indonesia, dan kantor PTPN yang dulunya bagian dari Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), perusahaan kolonial besar yang beroperasi di Hindia Belanda.
Selain itu, ada gedung yang kini menjadi Hotel Ibis, yang dulunya merupakan kantor Geo Wehry & Co, perusahaan perkebunan terbesar dengan 28 perkebunan. Geo Wehry & Co termasuk dalam "The Big Family," lima perusahaan raksasa Belanda. NV Lindeteves Stokvis, pabrik konstruksi baja terkemuka, kini menjadi Bank Mandiri, sedangkan NV Borneo Sumatera Maatschappij (Borsumij) adalah perusahaan dagang yang memiliki maskapai kapal sendiri untuk distribusi barang. NV Jacobson van den Berg, didirikan pada 1860, adalah perusahaan dagang besar dengan jaringan global dan cabang di hampir seluruh kota di Hindia Belanda, bergerak dalam ekspor-impor dan asuransi.