Transformasi
kota Surabaya menjadi kota pelabuhan
Perekonomian Surabaya berkembang pesat melalui aktivitas perniagaan di sungai Kali Mas, menjadikannya kota pelabuhan terkemuka sebelum pelabuhan Tanjung Perak dibangun pada tahun 1920. Pelabuhan Kali Mas menjadi pusat perdagangan dengan gudang-gudang dibangun di sepanjang sungai untuk menyimpan komoditas. Aktivitas bongkar muat di pelabuhan diatur dengan sistem bea dan cukai, termasuk penggunaan "boom" untuk mengontrol kapal yang masuk dan keluar.
Pasar Pabean, yang ada sejak 1849, menjadi pusat distribusi hasil laut dan rempah-rempah, dikelola dengan baik setelah diatur oleh Dinas Pasar. Surabaya juga memiliki pasar gelap di gedung putih Kembang Jepun, tempat barang ilegal dijual. Menjelang akhir abad ke-19, Surabaya menjadi kota terbesar di Hindia Belanda dan pelabuhan gula ketiga terbesar di dunia.
Pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak dirancang untuk menggantikan Pelabuhan Kali Mas, dengan fasilitas modern untuk mendukung perdagangan dan pertahanan. Pembangunan dimulai pada tahun 1907 dan selesai pada tahun 1921. Tanjung Perak dilengkapi dengan jalan kembar dan jembatan Ferwerda Brug yang dapat dibuka untuk kapal. Pelabuhan ini berfungsi sebagai pusat aktivitas bongkar muat dan pangkalan militer, serta menghubungkan pusat kota dengan pelabuhan.

Industrialisasi dan modernisasi Surabaya di era Hindia Belanda
Surabaya telah memiliki sentra industri sebelum kedatangan Belanda, namun masih dalam bentuk sederhana. Masuknya pemerintah kolonial membawa modernisasi, menciptakan dua model industri: industri rakyat skala kecil dan industri modern berskala besar. Pabrik senjata Artilleri Constructie Winkel yang dibangun oleh Daendels menjadi salah satu contoh awal industri modern.
Kebijakan Cultuurstelsel (tanam paksa) yang diterapkan oleh Johannes van den Bosch pada tahun 1830 mendorong produksi tanaman ekspor, terutama gula dan kopi, dan mempercepat perkembangan industri gula di Jawa Timur. Surabaya menjadi pusat industri dan perdagangan, dengan banyak pabrik gula yang menggunakan mesin modern.
Pada tahun 1870, Undang-Undang Agraria dan Undang-Undang Gula mendorong liberalisasi ekonomi, meningkatkan jumlah pabrik gula dan mesin uap di Jawa. N.V. Machinefabriek Braat, yang didirikan pada tahun 1901, menjadi pabrik mesin dan pengecoran logam terbesar di Surabaya, menunjukkan diversifikasi industri.
Pemerintah kota juga membentuk kawasan industri terpadu di bekas pabrik gula Ngagel, yang menjadi kawasan industri pertama di Indonesia. Kawasan ini menarik banyak investor, termasuk N.V. Machinefabriek Braat, yang mulai membangun pabrik di sana pada tahun 1920, diikuti oleh pabrik-pabrik lain.
