top of page

JEPANG

M Jasin menceritakan dalam tulisannya bahwa tentara Jepang yang memasuki kota Surabaya menggunakan sepeda ukuran pendek. Mereka tidak melepas tembakan tetapi membunyikan petasan di sepanjang jalan yang dilaluinya. Beberapa catatan sejarah mengatakan bahwa rakyat Surabaya menyambut kedatangan tentara Jepang dengan meriah karena tentara Jepang dianggap sebagai pembebas daricengkraman sekutu. Rakyat Surabaya penuh dengan kegembiraan bahkan berbondong-bondong menuju jalan yang dilalui pasukan Jepang.

Pasukan Jepang menguasai Indonesia memiliki tujuan untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya. Oleh karena itu setelah pendaratan dan mobilisasi pasukan Jepang di Surabaya sudah dilaksanakan, pemerintah Jepang berusaha memperkuat kedudukannya yakni dengan cara membuat beberapa penataan dalam hal pemerintahan khususnya bidang pertahanan dan keamanan. Salah satunya adalah menggunakan pabrik baja paling wahid di Surabaya yaitu Lindeteves Stokvis untuk menjadi bengkel senjata berat dan kendaraan perang. Lindeteves Stokvispun pada masa pemerintah militer Jepang dikenal dengan nama Kitahama Butai.

Kedatangan pemerintahan Jepang memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Surabaya. Surabaya merupakan salah satu penghasil gula terbesar di Jawa Timur. Namun pemerintah Jepang memiliki aturan-aturan baru terkait pengelolaan industri gula ini. Pemerintah Jepang menyita Algemeene Syndicate van Suikerindustrie (Sindikat Umum Industri Gula) dan Proefstation voor de Java Suikerindustrie (Stasiun Percobaan untuk Industri Gula di Jawa). Kemudian juga menyita perkebunan-perkebunan gula “milik musuh” (Belanda) sedangkan yang bukan milik “musuh” tetap diperbolehkan beroperasi. Aktivitas perkebunan gula milik “musuh” ini dipercayakan kepada enam perusahaan Jepang. Pabrik gula yang dulunya dimiliki oleh Handels Vereeniging Amsterdam dikelola oleh perusahaan Taiwan Seito, sedangkan milik Internationale Credit en Handels Vereeniging Rotterdam dipegang oleh Meiji Seito. Pabrik-pabrik gula ini lebih diarahkan untuk mendukung kepentingan pemerintah militer Jepang.

Cara pemerintah militer Jepang untuk mendapatkan hati dan simpati rakyat Surabaya yaitu dengan menggunakan propaganda. Menariknya bahkan Jepang memiliki departemen propaganda yang bernama Sendenbu. Propaganda sangat gencar dilakukan khususnya pada tahun-tahun awal pendudukan Jepang. Media yang digunakan dalam propaganda juga berbagai macam, mulai berupa poster, film, musik, drama, tarian, kamishibai (teater kertas) hingga bungkus korek api. Propaganda-propaganda ini kurang lebih berisi untuk meningkatkan hasil pertanian, menabung tabungan pos, seruan untuk masuk PETA, dorongan untukReplika seragam tentara Jepang dan infografis pangkat serta kelengkapannya melakukan romusha, mengenalkan sejarah Jawa dan perkenalan terhadap anak-anak Jepang.

Selain itu pemerintah Jepang juga sangat anti dengan Barat. Mereka juga melakukan penghapusan pengaruh Barat di Indonesia. Salah satunya adalah mengganti pimpinan dari Belanda atau Inggris yang berada baik di pemerintahaan maupun perusahaan dengan orang Jepang dan Indonesia. Kemudian melarang penggunaan bahasa Belanda dan Inggris dalam keseharian dan menggantinya dengan bahasa Jepang serta Indonesia. Patung-patung Eropa-pun diruntuhkan lalu mata uang Belanda diganti dengan mata uang Jepang atau yang dikenal dengan rupiah Jepang.

Pendidikan di masa pendudukan Jepang juga menghilangkan sistem pendidikan Belanda. Kemudian kaum bumiputera diberikan akses lebih luas untuk mendapatkan pendidikan tanpa adanya strata dan diskriminasi. Di sekolah-sekolah boleh mengibarkan bendera Merah Putih dan menggunakan bahasa Indonesia. Uniknya pendidikan di masa ini adalah kurikulumnya berbasis semi militer. Aturan-aturan sekolah semi militer di masa Jepang seperti laki-laki wajib gundul, melakukan latihan baris-berbaris, melakukan seikirei (penghormatan matahari terbit), melakukan kinrohoshi (kerja bakti), melakukan taisho (senam) bahkan olahraga anak laki-laki salah satunya adalah sumo.

MUSBAYA PNG PUTIH.png
bottom of page